Rabu, 11 Mei 2011

Hal Hal penting yang harus diperhatikan seorang penyiar

Apa yang harus dilakukan penyiar agar siarannya “mantap” dan sukses? Berikut ini  beberapa hal yang perlu kita ketahui sebelum “on air” atau masuk ke ruang siaran. Semoga bermanfaat.
1. Songs played. Kita harus tahu, jika perlu cek, daftar lagu yang harus, akan, atau siap diputarkan selama siaran. Dalam acara request, kita harus tahu ketersediaan lagu yang diminta pendengar.
2. Artists. Cari informasi terbaru, misalnya show atau album baru, menganai artis atau penyanyi yang lagunya kita putar. Ini penting untuk menambah bobot siaran, informatif! 3. Current Affairs. Kita, penyiar, hendaknya terus mengikuti berita-berita aktual, termasuk event-event dan berita lokal, nasional, bahkan internasional. Wawasan kita harus tetap up to date. Maka, penyiar wajib rajin baca, utamanya koran.
4. Prepare in advance. Jangan sepelekan persiapan dan latihan. You need time to practice what you’re going to say before you go on. Kita perlu waktu untuk melatih apa yang akan kita katakan sebelum siaran, utamanya latihan baca berita –jika siaran berita— atau menyampaikan adlibs (iklan baca).
5. Latihan sebelum mengudara akan menambah rasa percaya diri, selain meminimalkan kesalahan. Jika kita baca langsung berita atau info, tanpa latihan dulu, akan terdengar tidak alamiah, it can often sound unnatural!
6. Bicaralah dengan pendengar seakan-akan ngobrol dengan temain baik dan –jika pendengar lebih tua dari kita— dengan ibu atau kakak kita. Be Polite! (www.romeltea.com/source: wikihow.com).*
1.     Dasar siaran radio
Aktivitas mengajar segera dimulai di UIN SGD Bandung. Seakan berkesinambungan, mata kuliah yang dipercayakan kepada saya kali ini tentang Dasar-Dasar Siaran Radio. Tentu, masih hangat materi itu, karena saya baru saja menyelesaikan tugas menjadi pemateri Diklat Penyiar Radio RPI (Radio Perantau Indonesia) Hong Kong, 5-29 Agustus lalu.
Menurut SAP (Satuan Acara Perkuliahan) yang saya susun sendiri, mata kuliah Dasar-Dasar Siaran Radio atau Basic Announcing ini memberikan pemahaman dan keterampilan (ilmu dan teknik-praktis) dasar penyiaran radio, sebagai bekal dasar bagi mahasiswa KPI untuk mampu mensyi’arkan dakwah di media radio, baik sebagai penyiar dakwah, narasumber (penceramah radio), penulis naskah (script writer), maupun programer dan produser siaran radio dakwah.
Perkuliahan ditekankan pada praktek langsung (70%) dan teori (30%). Mata kuliah ini menjadi prasyarat bagi mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan Teknik Produksi Siaran Radio.
Mata kuliah ini juga hadir untuk membuka jalan bagi tersedianya SDM yang andal di bidang radio siaran dakwah sehingga menjadi “ujung tombak” lahirnya SDM penyiar dakwah. Penyelenggaraan perkuliahan ini juga dapat merespon dinamika “pasar” radio, pasar wacana komunikasi, dan radio sebagai salah satu medium dakwah Islamiyah.
Kompetensi mahasiswa yang dibentuk melalui perkuliahan ini berorientasi lebih dari sekadar transfer ilmu dan keterampilan siaran radio kepada mahasiswa, menuju penggalian “talenta” (skill, kreativitas) siaran radio dakwah dalam diri mereka.
Mata kuliah ini berisi kajian, pemahaman, sekaligus pemberian keterampilan siaran radio, meliputi konsep siaran radio yang auditif, bahasa tutur (spoken language), penguasaan alat-alat siaran, perekaman, pemahaman media radio sebagai media massa dan karakteristik khasnya, pengenalan pendengar radio dan organisasi stasiun radio, pemahaman teknik siaran dan pembacaan naskah siaran, dan pemahaman serta penguasaan hal lain yang berkaitan dengan konsep dan praktik siaran radio.
Mata kuliah ini sebagai prasyarat bagi mahasiswa untuk mengikuti mata kuliah yang sudah ada sebelumnya, yakni Teknik Produksi Siaran Radio Dakwah.
2. Gaya bicara penyiar radio
atural voice –suara alamiah, tidak dibuat-buat, berbicara seperti halnya ngobrol dengan teman di kafe, di telepon, atau di mana pun.
2. Ceria. Kelincahan (vitality) dalam berbicara sehingga dinamis dan penuh semangat, cheerful! Anda harus ceria selalu. Jangan lemas, lunglai, nanti terkesan tidak mood, apalagi ”judes”! Penyiar adalah penghibur, entertainer!
3. Suara diafragma –gunakan suara perut, suara yang keluar dari rongga antara dada dan perut. Untuk itu, perut harus bebas dari segala tekanan, duduk tegak, jangan bungkuk, dan… rileks! Nyatai, tidak tegang, tidak gugup.
4. Conversational –bicara dengan gaya ngobrol, bukan pidato, gunakan bahasa tutur, bahasa percakapan sehari-hari. Jangan gunakan gaya MC di pentas musik atau acara seremonial. Jadi, gak usah teriak juga bicara ”formal”.
5. Senyum –tebar senyuman agar friendly, ramah, hangat, dan enak didengar, memikat pendengar. Tentu, senyum diabaikan saat bicara kasus duka.
6. Atur Nafas –nafas megap-megap tidak akan menghasilkan siaran yang bagus. Bernafas secara tepat adalah dasar siaran profesional.
7. Mental Image, Visualize! –bayangkan sedang berbicara pada seorang teman. Membayangkan adanya seorang pendengar di depan akan membantu berkomunikasi secara alamiah, gaya ngobrol (conversational way). Berbicaralah layaknya kepada teman akrab (intimate friend). Lihat wajah teman Anda itu dalam “pikiran mata” (mind’s eye) Anda.
8. Konsentrasi –agar fokus, tidak ngaco.
9. Eye Contact, Kontak Mata. Bayangkan saja, Anda sedang berbicara dengan seorang teman, di depan Anda, tepat di depan meja siaran. Dijamin, gaya bicara Anda ”conversational” dan ”hangat”.
10. Gesture. Gunakan gerakan tubuh (gesture), meskipun tidak ada orang yang melihat Anda. Anda adalah aktor.
11. Pause, Jeda. Jedalah, diam sejenak, beberapa detik saja, untuk membiarkan pesan Anda sampai ke pendengar. Anda juga bisa jeda jika ”mencari gagasan” atau ”memilih kata” berikutnya.
12. Inflection, Infleksi. Jangan monoton, gunakan ”lagu kalimat” dengan benar; meninggi saat jeda, menurun saat selesai. Jangan khawatir, jika Anda berbicara dengan benar (gaya ngobrol), infleksi otomatis terjadi.
13. Intonasi (intonation) –nada suara, irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata, sehingga tidak datar atau tidak monoton. Intonasi bisa mengubah makna sebuah kata atau ungkapan!
14. Aksentuasi (accentuation) –penekanan (stressing) pada kata-kata tertentu yang dianggap penting. Aksentuasi dapat dilatih dengan cara menggunakan “konsep suku kata” -dan, yang, di (satu suku kata); minggu, jadi, siap, Bandung (dua suku kata); bendera, pendekar, perhatian (tiga suku kata); dan sebagainya. Ucapkan sesuai penggalan atau suku katanya!
15. Speed. Gunakan kecepatan (speed) dan kelambatan berbicara secara bervariasi. Kecepatan berpengaruh pada kejelasan (clarity), juga durasi.
16. Artikulasi (articulation) — kejelasan pengucapan kata demi kata. Disebut juga pelafalan kata (pronounciation). Jangan salah eja/ucap. (

2.     1o syarat jadi penyiar
3.      Semua orang bisa jadi penyiar atau siaran. Namun, tidak semua orang mampu siaran dengan baik dan benar sesuai dengan karakteristik radio dan pendengar.
4.      Penyiar adalah seorang profesional dalam arti memiliki keahlian atau ketermpilan khusus –yakni keterampilan komunikasi massa dalam hal ini komunikasi melalui radio. Untuk memiliki keahlian khusus tersebut, seorang penyiar hendaknya memenuhi kualifikasi atau persyaratan sebagai berikut:
5.      1. Suara standard –memiliki suara umum, tidak ada ”kelainan” dalam berbicara.
6.      2. ”Suka Ngomong” –bukan pendiam atau ”pelit kata”. Penyiar harus ”cerewet” dan sigap mengomentari apa pun dan menyuarakan apa pun yang terlintas di pikirannya.
7.      3. Wawasan –berwawasan atau memiliki pengetahuan yang luas, ”tahu banyak dan banyak tahu”, mengikuti peristiwa, isu, atau berita terkini.
8.      4. Hilangkan dialek –dalam berbicara di radio, dialek atau logat kedaerahan harus hilang.
9.      5. Ramah –penyiar harus friendly karena ia akan menjadi ”teman baik semua orang”, pendengarnya. Orang ramah disukai semua orang.
10.  6. Sense of Humor –humoris, karena ia seorang penghibur, maka penyiar harus humoris, suka becanda, minimal punya teka-teki atau bahan pembicaraan untuk membuat pendengar tertawa.
11.  7. Sense of Music –suka musik, lagu, bahkan mampu bernyanyi.
12.  8. Sociable –suka bergaul, luwes, fleksibel, mau dan mampu berbaur dengan orang banyak dan siap bekerja sama dengan tim. Penyiar tidak bekerja sendiri, tapi ditopang “tim kerja” seperti programmer, produser, penulis naskah, dll.
13.  9. Entertainer –berjiwa penghibur selalu berupaya menyengkan pendengar. harus mampu berekspresi secara fleksibel terdepan mengikuti segala trend lifestyle & information.
14.  10. Adaptable –penyiar bagian dari team work. Ia tidak bekerja sendiria. Karenanya, ia harus luwes dan sanggup menyesuaikan diri dengan anggota tim dan situasi-kondisi, termasuk tuntutan program dan jadwal siaran yang berubah-ubah atau dijadwal tidak sesuai dengan keinginan. Penyiar profesional, prinsipnya, harus siap ditugaskan siaran kapan dan pada program apa saja. Karenanya, ia juga harus memahami atau menguasai keseluruhan program siaran. (www.romeltea.com).*


4. semua suara bangus

Semua suara bagus. Tidak ada suara yang jelek, kecuali (1) dibuat-buat, tidak natural; (2) menyuarakan yang tidak dipahami; (3) bersuara dalam keadaan tidak rilek, tidak tenang, alias nervous, gugup, atau takut-takut.
Itu sering saya kemukakan di kelas pelatihan dan kelas “kuliahan” sebagai motivasi agar semua peserta/mahasiswa “PD”, percaya diri, bahwa mereka bisa menjadi seorang penyiar.
Semua orang bisa menjadi penyiar. Ya, semua orang! kecuali tunawicara. Siaran hakikatnya adalah “ngobrol”, make a chat, make a conversational with a friend, a best friend, di sela-sela pemutaran lagu dan iklan.
Standar siaran radio adalah “mengantarkan” lagu yang akan diputar dan “mengomentari” lagu yang sudah diputar; lalu mengantarkan lagu berikutnya, begitu seterusnya. Penyiar “hanya” mengisi link, linkage, blank spot, space, ruang, antarlagu. Saat mengisi link itulah, penyiar bersuara; berbicara apa saja sesuai dengan format siaran dan wawasannya. Wallahu a’lam. (www.romeltea.com).*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar